
Industri makanan bebas gluten semakin berkembang dan menjadi salah satu tren diet yang banyak diikuti masyarakat saat ini. Banyak orang meyakini bahwa menghindari gluten dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik, seperti pengendalian berat badan dan manajemen diabetes. Namun, seiring dengan popularitas ini, muncul pertanyaan: apakah klaim tersebut benar atau sekadar mitos?
Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Plant Foods for Human Nutrition menyoroti beberapa isu penting terkait produk bebas gluten. Penelitian ini membandingkan produk yang mengandung gluten dengan produk bebas gluten, dan hasilnya menunjukkan bahwa banyak dari klaim yang mengedepankan manfaat kesehatan dari makanan bebas gluten adalah dibesar-besarkan. Dalam penelitiannya, para peneliti menemukan bahwa banyak produk bebas gluten kekurangan serat pangan, protein, dan nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan tubuh. Hal ini menjadikan produk-produk ini kurang bergizi dibandingkan dengan produk yang mengandung gluten.
“Dalam banyak kasus, produsen menambahkan suplemen untuk meningkatkan kandungan nutrisi pada produk bebas gluten. Namun, penambahan serat makanan sering kali justru menghambat pencernaan protein,” jelas peneliti. Lebih jauh, produk bebas gluten cenderung mengandung kadar gula yang lebih tinggi. Ini menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang berusaha mengontrol berat badan atau mengelola diabetes.
Studi tersebut juga menemukan bahwa mengikuti diet bebas gluten dalam jangka panjang bisa berkontribusi pada peningkatan indeks massa tubuh (BMI) dan risiko kekurangan gizi. Banyak produk bebas gluten yang tidak hanya kehilangan protein, tetapi juga beberapa manfaat dari biji-bijian utuh yang biasa ada pada produk-makanan yang mengandung gluten, seperti arabiynxylan. Komponen ini diketahui dapat meningkatkan kesehatan usus dan membantu mengatur kadar gula darah.
Namun, tidak semua produk bebas gluten sama. Roti dari biji-bijian bebas gluten, misalnya, dapat memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan roti yang mengandung gluten. Hal ini disebabkan oleh penggunaan bahan alternatif, seperti amaranth dan quinoa, yang bisa membantu memenuhi rekomendasi asupan serat. Dalam beberapa kasus, produk ini bisa mencapai 38,24 gram serat per 100 gram, menandakan upaya untuk mengatasi kekurangan serat akibat penghilangan gluten.
Tren diet bebas gluten sendiri semakin populer di kalangan masyarakat. Data menunjukkan bahwa ukuran pasar produk bebas gluten global diperkirakan mencapai nilai US$40,0 miliar pada tahun 2033, meningkat dari US$22,1 miliar pada tahun 2024. Namun, banyak orang yang mengikuti diet ini tanpa pemahaman menyeluruh mengenai manfaat sebenarnya. Diet bebas gluten sejatinya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kebutuhan medis, seperti penderita penyakit celiac atau alergi gandum yang dapat menimbulkan gangguan pencernaan yang serius.
Dari analisis ini, penting bagi konsumen untuk memahami bahwa tidak semua yang ditawarkan dalam produk bebas gluten adalah lebih sehat atau lebih baik. Mengadopsi diet bebas gluten untuk alasan kesehatan yang tidak jelas dapat membawa lebih banyak dampak negatif daripada positif, terutama bagi mereka yang tidak memiliki sensitivitas terhadap gluten.
Sebagai langkah bijak, konsumen disarankan untuk memeriksa label gizi, memperhatikan komposisi produk, dan berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter sebelum melakukan perubahan besar pada pola makan mereka. Dengan demikian, pemahaman yang benar tentang diet bebas gluten dapat membantu orang-orang mengambil keputusan yang lebih baik untuk kesehatan mereka, dan memastikan mereka mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang, terlepas dari kehadiran gluten di dalam diet mereka.