
Kegiatan usaha bullion atau bank emas resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo pada 26 Februari 2025, menandai langkah signifikan bagi sektor keuangan di Indonesia. Salah satu lembaga jasa keuangan (LJK) yang telah mendapatkan izin untuk menyelenggarakan kegiatan usaha bullion adalah PT Pegadaian (Persero). Dengan izin ini, Pegadaian berencana untuk mengoptimalkan pengelolaan cadangan emas di Indonesia dan berkontribusi pada peningkatan sektor ekonomi.
Damar Latri Setiawan, Direktur Utama Pegadaian, memaparkan bahwa pihaknya menargetkan cadangan emas yang disimpan oleh Pegadaian mencapai 219 ton pada tahun 2030. Saat ini, Pegadaian telah memiliki sekitar 100 ton emas. “Lima tahun ke depan 219 ton. Potensi lima tahun tabungan emas kita segitu,” ungkap Damar saat ditemui usai peluncuran layanan tersebut di Gade Tower, Jakarta.
Dalam pengelolaan layanan bullion ini, Pegadaian tidak hanya menyediakan layanan simpan emas, tetapi juga membuka peluang pendanaan bagi institusi yang membutuhkan. Damar menjelaskan bahwa Pegadaian siap menyediakan paket lengkap dalam pengelolaan emas, sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh bank-bank tradisional. “Saat ini hanya Pegadaian yang bisa melakukan praktik emas secara menyeluruh, karena bank emas biasanya tidak memiliki deposito sehingga tidak dapat berfungsi secara optimal,” tuturnya.
Menteri BUMN, Erick Thohir, turut mengemukakan bahwa Indonesia memiliki potensi cadangan emas yang sangat besar. Dengan total cadangan emas sebesar 2.600 ton, Indonesia berada di urutan keenam dunia. Namun, saat ini cadangan emas batangan yang ada baru sekitar 201 ton, yang mencakup cadangan di Bank Sentral sebanyak 80 ton, Pegadaian 100 ton, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) sekitar 17,5 ton. “Kita masih tertinggal, terutama dibandingkan dengan Singapura yang sudah mencapai 228 ton,” ujarnya.
Erick berharap agar target 219 ton cadangan emas di Pegadaian dapat dicapai dan diikuti oleh BSI. Jika terwujud, total gabungan cadangan emas di kedua lembaga ini dapat mencapai 440 ton. Hal ini tentunya akan menjadi pencapaian yang luar biasa bagi sektor perbankan dan perekonomian Indonesia. Selain itu, Erick menyebutkan bahwa peningkatan produksi emas Indonesia dari 110 ton per tahun menjadi 160 ton per tahun menjadi salah satu faktor kunci dalam memperbesar cadangan emas nasional.
Dalam peluncuran layanan bullion ini, ada empat produk yang akan ditawarkan, antara lain:
1. Tabungan emas
2. Pinjaman dengan jaminan emas
3. Pembiayaan modal kerja
4. Layanan konversi emas
Damar menambahkan bahwa kesiapan Pegadaian dalam menjalankan layanan ini membuktikan kapabilitas mereka dalam pengelolaan emas selama lebih dari 100 tahun. Dengan peluncuran ini, Pegadaian berkomitmen untuk memperluas akses dan kesempatan bagi masyarakat serta institusi untuk memanfaatkan layanan yang berhubungan dengan emas.
Kehadiran layanan bullion ini diharapkan dapat menjadi stimulasi bagi pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi dan pengelolaan emas. Selain itu, program ini juga dapat memberikan dukungan tambahan bagi sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang membutuhkan modal untuk berkembang.
Diharapkan dengan adanya sinergi antara Pegadaian dan BSI dalam program serta target cadangan emas, Indonesia dapat meningkatkan posisi keberadaannya di pasar internasional. Potensi cadangan ini tidak hanya memberikan keuntungan jangka panjang bagi perekonomian, tetapi juga memperkuat stabilitas sektor keuangan di dalam negeri. Masyarakat serta pelaku usaha kini memiliki lebih banyak pilihan dalam berinvestasi dan mengelola aset mereka dengan memanfaatkan layanan bullion yang sudah resmi dihadirkan.