
Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta tengah menyelidiki kasus besar yang melibatkan mantan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Jakarta Barat, berinisial AZ, yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap terkait eksekusi pengembalian barang bukti korban investasi bodong robot trading Fahrenheit. Dalam tindakan ini, Kejati DKI berhasil menyita aset senilai total sekitar Rp 5 miliar, termasuk uang tunai, polis asuransi, dan properti.
Dari penjelasan yang disampaikan oleh Kajati DKI Jakarta, Patris Yusrian, pihaknya telah memblokir dan menyita uang di rekening yang diduga milik AZ sebesar Rp 3,7 miliar, yang terdiri dari uang cash sebesar Rp 1,7 miliar dan polis asuransi senilai Rp 2 miliar. Selain itu, Kejati juga menyita rumah dan tanah yang dibeli dengan dana hasil tindak pidana tersebut. Patris memastikan bahwa tidak ada proses pencucian uang yang berlangsung melalui rekening istri AZ, yang juga telah diperiksa sebagai saksi.
Dalam pengusutan kasus ini, AZ diduga telah melakukan pemotongan dalam eksekusi pengembalian barang bukti. Dari total uang pengembalian senilai Rp 61,4 miliar, ternyata hanya Rp 38,2 miliar yang benar-benar dikembalikan kepada pihak korban. Sisa senilai Rp 23,2 miliar dipangkas dan dibagi antara oknum jaksa dan kuasa hukum korban. Kejaksaan menemukan bahwa AZ menerima bagian senilai Rp 11,5 miliar sebagai hasil suap dari kuasa hukum korban.
Kasus ini mencuat pada tanggal 24 Februari 2025, ketika penyidik Kejati DKI Jakarta melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pihak terkait. Patris menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk mengejar semua yang terlibat dalam praktik korupsi ini dan akan memberikan sanksi tegas.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait kasus ini:
Identifikasi Tersangka: AZ, mantan JPU Kejari Jakarta Barat, ditetapkan sebagai tersangka suap dalam eksekusi pengembalian barang bukti.
Total Barang Bukti yang Disita: Kejati DKI menyita uang sebesar Rp 3,7 miliar, aset rumah, dan tanah.
Pengembalian Barang Bukti Asli: Sebagian dari total pengembalian barang bukti senilai Rp 61,4 miliar tidak dikembalikan kepada korban secara utuh.
Dugaan Suap: AZ diduga menerima Rp 11,5 miliar dari kuasa hukum korban berdasarkan kesepakatan untuk memangkas pengembalian barang bukti.
- Status Istri Tersangka: Rekening istri AZ digunakan untuk menyimpan dana yang disita, namun tidak ada bukti aliran uang dari AZ kepada istri.
Staf Kejati DKI berkomitmen untuk terus menyelidiki kasus ini, termasuk kemungkinan keterlibatan oknum lainnya yang berpotensi terlibat dalam praktik korupsi. Dalam perkembangannya, Kejati DKI berharap dapat memberikan keadilan bagi korban yang dirugikan dalam investasi bodong ini.
Kasus AZ menunjukkan pentingnya pengawasan yang ketat terhadap aparat hukum untuk mencegah pen滯tipuan dan penyalahgunaan wewenang. Dengan langkah-langkah tegas yang diambil oleh Kejati DKI, diharapkan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum dapat dipulihkan.