Hasil Toksikologi Temukan Kadar Alkohol Tinggi pada Liam Payne

Kematian tragis mantan personel One Direction, Liam Payne, masih menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan publik dan media. Informasi terbaru menyajikan hasil toksikologi yang mengungkapkan kadar alkohol tinggi di dalam tubuhnya saat meninggal dunia. Penemuan ini membawa berbagai spekulasi tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian malang tersebut.

Menurut laporan yang dikutip dari People pada tanggal 27 Februari 2025 dari siaran pers Kantor Kejaksaan Pidana dan Pemasyarakatan Nasional, kadar alkohol di tubuh Liam Payne pada saat kematiannya tercatat sebesar 2,7 gram per liter darah. Angka ini setara dengan 0,27% dan dapat menyebabkan kebingungan, perasaan linglung, serta disorientasi yang jelas akan memengaruhi keadaan seseorang secara mental dan fisik.

Kematian dilakukan pada bulan Oktober 2024 setelah Liam jatuh dari balkon hotel CasaSur Palermo di Argentina. Kabar mengenai insiden ini cukup mengejutkan mengingat Liam masih terbilang muda dan memiliki karier yang cemerlang sebagai seorang musisi. Selain kadar alkohol, hasil analisa toksikologi juga menemukan adanya metabolit kokain, termasuk methylecgonine, benzoylecgomine, dan cocaethylene, serta obat antidepresan setraline dalam tubuhnya.

Hasil penyelidikan menunjukkan adanya dugaan bahwa Liam Payne terlibat dalam konsumsi narkoba sebelum kematiannya. Dalam waktu 72 jam menjelang kejadian tersebut, tubuhnya terindikasi mengandung alkohol, kokain, dan obat terlarang lainnya melalui pengujian toksikologi terhadap sampel urin, darah, dan cairan vitreus. Temuan ini semakin memperkuat hipotesis tentang hubungan antara penggunaan zat terlarang dan kecelakaan fatal yang menimpa mantan penyanyi itu.

Kasus ini semakin pelik dengan terungkapnya keterangan dari Braian Paiz, yang diduga memasok narkoba kepada Liam. Meskipun sebelumnya Paiz membantah tuduhan tersebut, hakim memutuskan untuk melanjutkan penuntutan, setelah bukti yang diperoleh menunjukkan bahwa Paiz terlibat aktif dalam peredaran narkoba. Dalam penyelidikan, ditemukan juga pesan yang menunjukkan komunikasi antara Liam dan Paiz mengenai pengiriman narkoba, yang menambah kontroversi dalam kasus ini.

Perlu dicatat bahwa dampak dari konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan serta perilaku individu. Dalam konteks ini, peringatan bagi para penggemar dan masyarakat umum tentang bahaya penyalahgunaan zat seharusnya semakin ditekankan.

Untuk lebih mendalami kasus ini, berikut adalah beberapa rincian penting yang muncul dari hasil toksikologi dan penyelidikan:

  1. Kadar Alkohol: 2,7 gram per liter darah.
  2. Kadar alkohol setara dengan 0,27%, risiko kebingungan dan disorientasi.
  3. Metabolit kokain yang ditemukan: methylecgonine, benzoylecgomine, cocaethylene.
  4. Keberadaan obat antidepresan setraline dalam sistem.
  5. Ketergantungan pada substansi terlarang dalam 72 jam menjelang kematian.
  6. Dugaan pengedar narkoba: Braian Paiz, dengan komunikasi terdokumentasi mengenai penyampaian narkoba.

Kejadian ini mengingatkan kita pada kebutuhan untuk lebih memahami masalah kesehatan mental dan penggunaan zat terlarang, terutama bagi individu yang hidup di bawah tekanan publik. Kematian Liam Payne bisa jadi adalah sebuah panggilan untuk bertindak, menjaga kesehatan mental, menyediakan dukungan bagi mereka yang membutuhkan, dan melakukan langkah preventif terhadap penyalahgunaan zat.

Liam Payne akan selalu dikenang bukan hanya sebagai seorang bintang pop, tetapi juga sebagai simbol peringatan akan efek merusak dari obat-obatan dan alkohol. Semoga kejadian tragis ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang tentang pentingnya kesehatan mental dan keselamatan.

Exit mobile version