IHSG Anjlok 2,51%, Dana Asing Kabur, Saham Tertekan: Apa Selanjutnya?

IHSG anjlok parah pada Jumat, 28 Februari 2025, dengan penurunan sebesar 2,51% menuju posisi 6.322,41. Pada sesi pertama perdagangan, indeks harga saham gabungan mencatat level tertinggi di 6.485,44 dan level terendah di 6.292,31. Data mencerminkan bahwa sebanyak 541 saham mengalami penurunan, memberikan tekanan yang signifikan terhadap IHSG.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, menjelaskan bahwa ada berbagai faktor baik dari global maupun domestik yang mempengaruhi penurunan ini. “Kebijakan tarif perdagangan yang ketat serta suku bunga tinggi di Amerika Serikat menjadi faktor utama keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia,” kata Iman. Ia menekankan bahwa tingginya suku bunga di AS membuat investor lebih memilih aset berisiko rendah, mengakibatkan mereka menarik investasi dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, Iman juga mencatat tren penurunan kepercayaan investor asing yang tampak dari catatan net sell yang hampir mencapai Rp 19 triliun sejak awal tahun 2025. “Kami juga melihat adanya perubahan komposisi investor, yang merupakan tantangan tersendiri bagi pergerakan IHSG,” tambahnya. Meski IHSG mengalami penurunan, Iman menyebutkan bahwa nilai transaksi di pasar bursa mengalami peningkatan, menunjukkan adanya aktivitas perdagangan yang masih berlangsung meskipun dalam situasi sulit.

Pelemahan IHSG tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengidentifikasi bahwa depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menjadi pendorong penting dari penurunan ini. “Rupiah saat ini sudah berada di level 16.565, yang jelas berdampak negatif pada perkiraan keuntungan emiten, khususnya di sektor perbankan,” ungkap Herditya. Ia menambahkan bahwa kinerja beberapa bank besar, seperti BBRI, juga menunjukkan penurunan yang signifikan dengan net profit yang melemah 58% dibandingkan tahun lalu.

Dari segi global, ketidakpastian masih membayangi pasar, terutama dengan adanya rencana AS untuk menerapkan tarif impor terhadap negara-negara seperti Kanada, Meksiko, dan China. Hal ini menyebabkan kekhawatiran investor meningkat kembali, menciptakan suasana pasar yang penuh tekanan.

Seiring dengan situasi ini, pasar saham di seluruh sektor mengalami penurunan. Para investor disarankan untuk mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi. Meskipun IHSG mengalami tekanan berat, beberapa analis percaya ada potensi untuk bangkit kembali ketika kondisi ekonomi global mulai stabil.

Dengan demikian, langkah-langkah yang diambil oleh BEI dan pemerintah dalam merespons dinamika global dan domestik sangat krusial. Penanganan yang tepat terhadap isu-isu ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan yang lebih baik kepada investor, baik lokal maupun asing, untuk kembali berinvestasi di pasar saham Indonesia.

Perhatian pada perkembangan ekonomi global, kebijakan trading, serta langkah-langkah strategis dari pihak berwenang diharapkan dapat membawa harapan bagi perbaikan IHSG di masa mendatang.

Exit mobile version