
Jet-jet tempur Israel kembali melancarkan serangan udara di wilayah selatan Suriah pada malam Selasa lalu, dalam tindakan yang diclaim sebagai upaya untuk menargetkan lokasi-lokasi militer yang menyimpan senjata. Menurut Panglima Angkatan Bersenjata Israel (IDF), serangan ini merupakan respons terhadap potensi ancaman yang ditimbulkan oleh kehadiran pasukan militer di dekat perbatasan Israel.
Agresi udara ini terjadi setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan yang menekankan pentingnya demiliterisasi total wilayah selatan Suriah, menyusul pergerakan pasukan-pasukan yang diduga loyal kepada pemerintah Bashar al-Assad dan kelompok Islamis, yang tengah beroperasi di area tersebut. “Kehadiran pasukan dan aset militer di bagian selatan Suriah menimbulkan ancaman bagi warga Israel. IDF akan terus beroperasi untuk menghilangkan ancaman apa pun terhadap negara kami,” ungkap IDF dalam pernyataannya.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mencatat bahwa serangan Israel telah mengakibatkan setidaknya dua jiwa melayang, meskipun sumber tidak dapat memastikan apakah para korban adalah anggota militer atau warga sipil. Laporan dari SOHR menyebutkan bahwa serangan paling intens terjadi di markas besar unit militer Suriah di barat daya ibu kota Damaskus, serta di provinsi Daraa. Selain itu, enam serangan dilaporkan mengarah pada posisi-posisi militer di Tell al-Hara, sebuah bukit strategis yang mengawasi wilayah Golan dan bagian utara Israel.
Dalam konteks yang lebih luas, Netanyahu menegaskan pentingnya tidak mengizinkan pasukan dari Hayat Tahrir al-Sham (HTS) atau tentara pemerintah Suriah baru masuk ke wilayah selatan Damaskus. “Kami menuntut demiliterisasi total Suriah selatan, termasuk provinsi Quneitra, Daraa, dan Suwayda,” tegas Netanyahu. Selanjutnya, kehadiran pasukan Israel di zona penyangga yang dipatroli PBB di Dataran Tinggi Golan akan terus berlangsung tanpa batas waktu.
Israel sendiri telah meluncurkan ratusan serangan udara di Suriah sejak pecahnya perang saudara pada 2011, dengan fokus utama pada target-target yang terhubung dengan Iran dan pasukan militer Suriah. Pemantau perang menduga bahwa serangan terbaru ini bertujuan untuk mencegah aset-aset militer jatuh ke tangan musuh, terutama di tengah ketidakpastian politik yang terjadi di Suriah.
Sementara itu, peserta konferensi dialog nasional Suriah mengeluarkan pernyataan menolak apa yang mereka sebut sebagai pernyataan “provokatif” dari Netanyahu. Mereka mendesak masyarakat internasional untuk memberi tekanan kepada Israel agar menghentikan semua bentuk agresi dan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.
Kehadiran Israel dan serangan-serangan yang dilancarkan di Suriah mengindikasikan besarnya ketegangan yang meliputi kawasan tersebut. Keputusan Israel untuk melakukan serangan ini juga menggarisbawahi strategi mereka untuk melindungi integritas teritorial dan keamanan negaranya. Dalam situasi yang semakin rumit ini, konflik di Suriah menunjukkan dinamika yang melibatkan kekuatan regional dan internasional, menambah ketidakpastian bagi penduduk lokal yang terus menghadapi risiko dalam tiap tiang konflik yang ada.
Dengan latar belakang sejarah yang panjang serta persaingan yang terus berlanjut antara Israel dan Suriah, masa depan wilayah selatan Suriah tetap dipenuhi tantangan. Semua pihak terlibat, baik lokal maupun internasional, terus berupaya menemukan jalan keluar dari kompleksitas konflik ini, sementara situasi di lapangan tetap dalam ketegangan yang penuh ketidakpastian.