Pertamina Akui Pelanggan Kabur: Isu BBM Oplosan Mencemaskan!

PT Pertamina Patra Niaga mengakui bahwa perusahaan mengalami kehilangan pelanggan setelah munculnya isu dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah yang melibatkan Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini diungkapkan oleh Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, yang menyatakan bahwa terdapat penurunan signifikan dalam penjualan BBM pada tanggal 25 Februari 2025.

Kendati demikian, Ega menekankan bahwa penurunan ini hanya terjadi selama sehari dan masih berada di bawah 5 persen. Ia menjelaskan bahwa jenis BBM yang paling sangat terpengaruh adalah Pertamax. “Tapi kita melihat rata-rata hariannya masih sama,” ujar Ega, menunjukkan bahwa meskipun ada fluktuasi, penjualan secara keseluruhan tidak terlalu terpengaruh dalam jangka waktu lebih lama.

Kebangkitan isu mengenai kemungkinan pengoplosan BBM, khususnya Pertamax, seperti yang beredar di masyarakat, menjadi perhatian khusus bagi Pertamina. Ega menjelaskan, perusahaan melakukan proses blending dengan penambahan zat aditif sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas produk BBM yang ditawarkan kepada konsumen. Dalam pernyataannya, ia dengan tegas menyatakan bahwa proses ini bukan pengoplosan, dan setiap penambahan aditif yang dilakukan tidak mengubah spesifikasi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dalam hal ini, kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Lemigas memiliki otoritas dalam menentukan spesifikasi BBM yang sesuai. Ega juga menjelaskan manfaat dari penambahan zat aditif tersebut, yang bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi pengguna, termasuk menjaga kebersihan mesin, mencegah karat, serta memberikan performa mesin yang lebih ringan saat berkendara. “Tidak ada perubahan spesifikasi. Jadi kami menjual atau memasarkan produk Pertamax ini sesuai spesifikasi Dirjen Migas,” ujarnya menegaskan.

Pertamina juga menyoroti proses injeksi warna (dyes) yang diterapkan di terminal utama BBM. Proses ini bertujuan untuk membedakan produk agar lebih mudah dikenali oleh masyarakat. Maka dari itu, terminal-terminal penyimpanan di Pertamina Patra Niaga tidak memiliki fasilitas untuk melakukan blending produk gasoline secara mandiri.

Isu pengoplosan ini tentu saja menimbulkan dampak yang tidak kecil bagi perusahaan. Masyarakat yang sebelumnya loyal terhadap produk BBM Pertamina kini mulai ragu dan mempertimbangkan alternatif lain. Banyak pelanggan yang memilih untuk mencari sumber bahan bakar yang lebih terpercaya, terutama di tengah kekhawatiran akan kualitas BBM yang dihasilkan.

Untuk mengatasi hal ini, Ega dan tim manajemen Pertamina berupaya keras meningkatkan transparansi dan komunikasi efektif kepada publik. Mereka berusaha memberikan informasi yang akurat mengenai proses produksi BBM dan menjelaskan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan bahwa produk yang dijual tetap memenuhi standar kualitas.

Situasi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi Pertamina di tengah persaingan pasar yang ketat. Pelanggan kini semakin cerdas dalam memilih produk, dan kepercayaan merupakan hal yang sangat berharga. Pertamina harus mampu membangun kembali kepercayaan publik melalui pendekatan yang transparan dan responsif terhadap isu yang berkembang.

Ke depan, pihak Pertamina berharap dapat memberikan jaminan yang lebih kuat kepada masyarakat tentang kualitas BBM yang mereka tawarkan. Inisiatif program edukasi kepada konsumen dan pelibatan mereka dalam proses pemantauan kualitas bisa menjadi langkah strategis untuk mendukung pemulihan citra perusahaan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Pertamina dapat kembali menarik pelanggan yang sempat pergi dan membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan konsumen.

Exit mobile version