Jakarta menduduki peringkat ke-24 dalam daftar kota termacet di dunia berdasarkan TomTom Traffic Index 2025. Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin, menilai data ini sebagai peringatan serius terhadap kebijakan yang ada.
Alarm Kebijakan, Bukan Sekadar Peringkat
“Kami di DPRD DKI Jakarta melihat data soal kemacetan ini sebagai alarm kebijakan, bukan sekadar peringkat,” kata Khoirudin kepada wartawan, Kamis (22/1/2026). Ia menambahkan bahwa Jakarta sebagai kota megapolitan masih menghadapi tantangan mobilitas tinggi, aglomerasi Jabodetabek, dan pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan.
Khoirudin menekankan bahwa penyelesaian masalah kemacetan memerlukan orkestrasi lintas sektor dan konsistensi kebijakan, bukan solusi tunggal.
Perluas Integrasi Transportasi Publik
Menyikapi kondisi tersebut, DPRD DKI Jakarta mendorong penguatan dan perluasan integrasi moda transportasi publik. “Kami mendorong agar integrasi MRT, LRT, Transjakarta, KRL, dan moda pengumpan (feeder) terus diperluas, baik dari sisi jangkauan, kenyamanan, maupun keterjangkauan tarif. Transportasi publik harus menjadi pilihan rasional, bukan sekadar alternatif,” ujar Khoirudin.
Evaluasi Sistem Lalu Lintas dan Pengendalian Kendaraan Pribadi
Selain integrasi transportasi publik, DPRD juga mendorong evaluasi sistem lalu lintas yang lebih baik. “Evaluasi rekayasa lalu lintas, pengaturan jam kerja fleksibel, serta optimalisasi sistem transportasi cerdas (ITS) perlu terus ditingkatkan, berbasis data dan teknologi, bukan reaktif,” jelasnya.
Pengendalian penggunaan kendaraan pribadi juga menjadi fokus. Khoirudin berharap kebijakan seperti ganjil-genap, parkir berbayar progresif, dan wacana ERP dibahas secara matang dengan komunikasi publik yang baik untuk menghindari resistensi sosial.
Kerja Sama Lintas Daerah dan Pengawasan Anggaran
Menyadari bahwa kemacetan Jakarta tak lepas dari mobilitas warga Jabodetabek, DPRD mendorong Pemprov DKI Jakarta memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah lain di wilayah tersebut. “DPRD memastikan kebijakan pengendalian kemacetan didukung anggaran yang tepat sasaran, serta pengawasan agar implementasinya efektif dan berdampak nyata,” ungkapnya.
Khoirudin menegaskan komitmen DPRD DKI Jakarta untuk menjadi mitra strategis Pemprov dalam mengawal kebijakan dan memastikan solusi kemacetan dijalankan secara berkelanjutan.
Jakarta Naik Peringkat di Indeks Kemacetan Dunia
Sebelumnya, Jakarta naik ke peringkat ke-24 kota termacet di dunia pada 2025, meningkat signifikan dari peringkat ke-90 pada tahun sebelumnya. Sementara itu, Bandung menduduki peringkat ke-16 dan menjadi kota paling macet di Indonesia. Peringkat ini berdasarkan analisis TomTom Traffic Index yang menggunakan data kecepatan dan lokasi kendaraan secara real-time.






