Gerak-gerik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di media sosial kembali menarik perhatian publik. Kali ini, Gibran kepergok mem-follow akun Instagram yang mengusung nama @kementeriankegelapan, sebuah akun yang dikenal karena konten satir dan kritikan terhadap kebijakan pemerintah. Momen menarik ini dibagikan oleh admin akun tersebut yang mengunggah tangkapan layar menunjukkan bahwa Wapres Gibran mulai mengikuti mereka.
Dalam tangkapan layar yang diunggah, terlihat profil resmi Gibran, gibran_rakabuming, bercentang biru dengan notifikasi “started following you from your post.” Admin akun Kementerian Kegelapan pun menyambut Gibran dengan pesan, “Selamat datang Pak Wapres di Kementerian Kegelapan,” yang menarik berbagai respons dari netizen.
Latar belakang di balik fenomena ini cukup kompleks. Akun Kementerian Kegelapan telah lama menjadi sorotan karena sering kali menyampaikan kritik pedas yang mengisyaratkan ketidakpuasan terhadap kebijakan tertentu. Dengan Gibran mengikuti akun ini, banyak netizen mempertanyakan makna di balik tindakan tersebut. Sebagian dari mereka melontarkan komentar satire yang merujuk pada istilah Fufufafa, yang merupakan akun di Kaskus yang dikenal karena keterlibatannya dalam isu-isu kontroversial. Berikut adalah beberapa reaksi netizen yang terekam:
1. “Menuju Indonesia gelap bersama Gibran.”
2. “Wapres yang akan memimpin kita menuju kegelapan.”
3. “Kita tunggu komentar ala Fufufafa-nya Pak.”
4. “Welcome Fufufafa, ditunggu oplosannya.”
5. “Menuju kegelapan hakiki bersama Fufufafa.”
Reaksi-reaksi ini mengindikasikan bahwa banyak orang meragukan niat Gibran mem-follow akun tersebut. Beberapa netizen bahkan menyarankan agar admin Kementerian Kegelapan memblokir Gibran, dengan alasan kekhawatiran akan dampak negatif dari interaksi tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Gibran mungkin berusaha menggunakan metode intimidasi ala “Fufufafa,” yang dinilai tidak pantas.
Akibat dari peristiwa ini, semakin banyak yang mulai mencari tahu tentang akun Kementerian Kegelapan. Mereka dikenal kerap mengunggah konten kritis yang berisi sindiran terhadap kebijakan pemerintah dan situasi politik di Indonesia. Terlebih, akun ini pernah memberikan dukungan kepada kandidat independen di Pilkada Jakarta 2024, yang semakin meningkatkan ketertarikan publik terhadapnya.
Menariknya, fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial kini menjadi ajang interaksi antara pejabat publik dan masyarakat. Seiring dengan semakin tingginya penggunaan platform-platform ini, para pemimpin seperti Gibran harus lebih berhati-hati dalam menjaga citra diri dan memperhatikan dampak dari tindakan mereka di ranah digital.
Beberapa pengguna media sosial mencatat bahwa ketidakpastian ini bisa menjadi komplek, mengingat bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah akan selalu diikuti dengan kritik. Ini membawa makna baru bagi netizen yang selama ini merasa suara mereka tak didengar. Melihat betapa cepatnya reaksi publik, jelas bahwa Gibran dan para pemimpin lainnya diharapkan lebih tanggap terhadap aspirasi masyarakat.
Dari peristiwa ini, satu hal yang jelas adalah bahwa Gibran dan posisi yang dipegangnya sebagai Wakil Presiden harus memberikan contoh positif dalam berinteraksi di platform digital, termasuk dalam mengakses atau mengikuti akun-akun yang kontroversial. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa pemimpin tidak hanya hadir dalam wacana, tetapi juga dalam aksi yang nyata dan berkelanjutan.