Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani membeberkan kondisi cuaca saat pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan dan jatuh di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Ia menjelaskan adanya awan kumulonimbus (CB) saat pesawat hendak mendekat ke Bandara Sultan Hasanuddin.
Kondisi Cuaca Awal Normal
Faisal menyampaikan, saat pesawat terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, kondisi cuaca dilaporkan normal. Berdasarkan laporan METAR (Meteorologi Aerodrome Report) dari Bandara Adisutjipto, angin bertiup dari timur laut dengan kecepatan 4 knot, jarak pandang 6 kilometer, serta tekanan udara dan suhu yang normal. Tidak ada cuaca signifikan yang terdeteksi, hanya awan berjumlah 1-2 oktas atau berawan cenderung cerah pada ketinggian sekitar 1.800 kaki. Prakiraan cuaca untuk 30 jam ke depan di Bandara Adisutjipto juga secara umum dinilai cukup baik.
Laporan Cuaca Bandara Sultan Hasanuddin
Berdasarkan laporan cuaca penerbangan atau METAR Bandara Sultan Hasanuddin pada 17 Januari 2026 pukul 12.30 Wita, kondisi cuaca di area bandara relatif aman untuk pendaratan. Angin bertiup dari arah barat dengan kecepatan 13 knot dan jarak pandang 9 kilometer. Suhu dan tekanan udara normal, yakni 31°C dan 1.007 mb. Cuaca di sekitar bandara berupa hujan sesaat di luar area bandara, dengan awan kumulonimbus 1-2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki, serta awan yang lebih tebal (3-4 oktas) pada ketinggian sekitar 1.800 kaki.
Faisal menekankan bahwa cuaca saat itu diperkirakan masih relatif stabil, namun keberadaan awan kumulonimbus di wilayah pendekatan pendaratan tetap harus diwaspadai.
Citra Satelit dan Keberadaan Awan Tebal
Citra satelit Himawari IR Enhanced pada 17 Januari 2026 pukul 11.00-13.30 WITA menunjukkan suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C. Hal ini mengindikasikan keberadaan awan tinggi dan awan tebal (dense cloud) di sekitar wilayah tersebut.
Meskipun angin dari arah barat berkecepatan 13 knot dengan jarak pandang 9 km, dan sempat terjadi hujan sesaat di luar area bandara, BMKG menyatakan kondisi tersebut masih memungkinkan untuk lepas landas dan pendaratan. Namun, “yang perlu diwaspadai adalah bandaranya relatif aman dengan jarak pandang yang cukup tetapi untuk area untuk menuju ke pendaratan ini yang perlu diwaspadai akan adanya awan CB di ketinggian 1.700-1.800 yang kami sampaikan tadi cukup tinggi dan tebal (dense cloud),” ujar Faisal.
Pertanyaan Ketua Komisi V DPR
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mempertanyakan penjelasan BMKG terkait posisi awan CB di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin. Ia menyoroti letak bandara yang berada di kawasan datar dan dekat laut. “Setahu saya bandara ini kan di tepi laut pak, dan di tanah yang datar, kita masuk (arahnya) dari laut, persawahan kan Bandara Hasanuddin di situ, nah, ini banyak jadi pertanyaan kita orang awam ini, itu kan CB nya ketinggian di 1.700-1.800 kaki harusnya kan dengan posisi itu di tepi laut dan daerah rendah harusnya pesawat dengan jarak 9 kilometer itu menurut saya visual 9 kilometer itu aman,” ujar Lasarus.
Penjelasan BMKG Mengenai Pendekatan Pendaratan
Menanggapi hal tersebut, Faisal menjelaskan bahwa pesawat ATR tersebut berada pada ketinggian jelajah sekitar 6.500 kaki sebelum melakukan penurunan untuk mendarat. Saat memasuki fase pendekatan, pesawat harus melewati lapisan awan cumulonimbus yang berada di ketinggian 1.700-1.800 kaki. “Begitu dia turun ke bandara, yang METAR tadi kami sebutkan itu kondisi di Bandaranya pak, jadi bandaranya visibility-nya baik ya, tidak ada gangguan signifikan sehingga bisa untuk pendaratan, tapi approach-nya nanti yang akan mempengaruhi, ya jadi jarak pandang itu berlaku pada saat akan pendaratan,” tuturnya.






