Krisis pasokan chip memori global diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun 2030. Fenomena ini utamanya disebabkan oleh lonjakan permintaan chip memori berperforma tinggi untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) yang tidak dapat diimbangi oleh kapasitas produksi industri saat ini. Akibatnya, harga perangkat elektronik konsumen seperti smartphone dan laptop diprediksi akan terus melambung, bahkan berpotensi membuat segmen pasar ponsel dan laptop murah menghilang.
Chairman SK Group, Chey Tae-won, memperkirakan kelangkaan memori akan berlangsung hingga sekitar tahun 2030. Pernyataan ini disampaikan di tengah konferensi Nvidia GTC di San Jose, Amerika Serikat, di mana ia menjelaskan bahwa pasokan wafer industri saat ini tertinggal lebih dari 20 persen dibandingkan permintaan. Wafer adalah lempengan tipis berbahan silikon yang menjadi dasar pembuatan chip semikonduktor, termasuk memori seperti DRAM dan NAND. Proses pengamanan wafer tambahan membutuhkan waktu panjang, sehingga ketimpangan antara pasokan dan permintaan sulit diatasi dalam waktu singkat.
Dampak Krisis Chip pada Industri Elektronik
Pergeseran industri yang lebih fokus pada produksi high bandwidth memory (HBM) untuk kebutuhan AI turut memperparah situasi. Produsen besar seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology kini lebih memprioritaskan produksi HBM, yang berujung pada berkurangnya produksi DRAM konvensional. Hal ini memicu lonjakan harga di berbagai perangkat elektronik konsumen.
Menurut firma riset Gartner, harga gabungan DRAM dan solid-state drive (SSD) dapat melonjak hingga 130 persen pada akhir 2026. Kenaikan ini diperkirakan akan mendorong harga PC naik sekitar 17 persen secara tahunan, dan harga smartphone naik 13 persen. Akibatnya, pengiriman PC global diproyeksikan turun 10,4 persen dan smartphone turun 8,4 persen pada tahun 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Era Ponsel Murah Terancam Berakhir
Krisis pasokan chip memori global ini juga berpotensi mengakhiri era smartphone murah yang selama ini mendominasi pasar. Lonjakan harga komponen memori, ditambah ketegangan geopolitik yang memecah rantai pasok semikonduktor, membuat model bisnis ponsel murah semakin sulit dipertahankan.

Lembaga riset International Data Corporation (IDC) memprediksi harga jual rata-rata smartphone akan melonjak 14 persen selama 2026 ke level tertinggi US$523 (sekitar Rp 8,7 juta). Lebih lanjut, produsen diprediksi tidak lagi mampu membuat ponsel dengan harga di bawah US$100 atau sekitar Rp 1,6 juta.
Laporan IDC juga menyebutkan bahwa penjualan smartphone global akan mengalami penurunan mencapai 12,9 persen menjadi 1,12 miliar unit pada tahun 2026, jumlah terendah dalam lebih dari satu dekade terakhir. Kondisi ini berpotensi memicu “krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya” di industri tersebut, bahkan gejolak sebelumnya dinilai akan terlihat sepele dibandingkan kondisi saat ini.
Perpanjangan Siklus Penggunaan Perangkat
Kenaikan harga komponen diperkirakan akan membuat konsumen menahan diri untuk membeli perangkat baru. Gartner memproyeksikan masa pakai PC akan meningkat 15 persen untuk pengguna bisnis dan 20 persen untuk konsumen pada akhir 2026. Perpanjangan siklus penggunaan perangkat ini dapat menimbulkan kekhawatiran baru terkait kerentanan keamanan dan tantangan dalam mengelola perangkat yang lebih tua.
Selain itu, segmen PC entry-level yang harganya di bawah US$500 diprediksi akan menghilang pada tahun 2028. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya memori yang kini mencapai 23 persen dari total biaya produksi (Bill of Materials/BOM), naik dari 16 persen pada tahun sebelumnya, membuat margin keuntungan yang tipis menjadi tidak lagi viable.
Perusahaan-perusahaan seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology terus berinvestasi besar dalam peningkatan kapasitas produksi HBM. SK Hynix, misalnya, membangun fasilitas pengemasan dan pengujian HBM senilai US$13 miliar yang ditargetkan rampung pada akhir 2027. Sementara Samsung memperluas kapasitas produksi DRAM di Pyeongtaek dan Micron menyiapkan fasilitas senilai US$9,6 miliar di Jepang. Sebagian besar investasi baru ini difokuskan pada lini HBM karena menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan DRAM konvensional.






