Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa fenomena rob atau naiknya air laut ke daratan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dan memperlama surutnya banjir di sejumlah wilayah Jakarta Utara. Rob menghambat proses pengaliran air ke laut meskipun ratusan pompa telah dikerahkan.
“Jadi banjirnya yang begitu lama karena genangan di beberapa jalan termasuk di Gunung Sahari ini lama karena juga rob. Begitu cukup tinggi akibat intensitas hujan yang tinggi, dan yang kedua adalah rob,” ujar Pramono di Kawasan Petojo Utara, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Pramono menjelaskan bahwa curah hujan yang terjadi pada akhir pekan lalu merupakan yang tertinggi selama hampir satu tahun masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Berdasarkan pemantauan di delapan titik di Jakarta Utara, intensitas hujan tercatat mencapai angka yang signifikan, yaitu antara 260 hingga 280 milimeter.
Curah Hujan Tertinggi dalam Setahun
“Selama ini di Jakarta jarang sekali curah hujan di atas 200 milimeter. Kemarin di delapan titik semuanya di atas 200,” ungkapnya. Hujan dengan intensitas tinggi tersebut berlangsung selama kurang lebih delapan jam dan memberikan dampak paling besar di wilayah Jakarta Utara.
Lebih lanjut, Pramono merinci bahwa fenomena rob menjadi kendala utama dalam proses pemompaan air. Ketinggian air laut yang meningkat membuat air hujan tidak dapat dialirkan secara efektif.
“Problemnya adalah rob, kemudian air tidak bisa turun, tidak bisa dipompa. Padahal sudah kita kerahkan pompa stasioner maupun mobile kurang lebih 1.200 pompa, termasuk pompa milik Kementerian PUPR,” jelas Pramono.
Dampak Banjir di Kelapa Gading dan Gunung Sahari
Akibat kombinasi curah hujan ekstrem dan rob, genangan air di sejumlah wilayah dilaporkan bertahan cukup lama. Pramono menyebut Kelapa Gading dan kawasan Gunung Sahari sebagai dua daerah yang paling terdampak dengan durasi genangan terlama.
“Air baru benar-benar surut pada hari Senin pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Dua daerah yang dampaknya paling panjang itu Kelapa Gading dan Gunung Sahari,” katanya.
Meskipun demikian, Pramono memastikan bahwa sebagian besar akses transportasi umum telah dapat dilalui kembali sejak Minggu. Ia juga menambahkan bahwa jumlah pengungsi yang terdampak banjir relatif sedikit, meskipun ketinggian genangan sempat cukup signifikan di beberapa titik.






