Berita

Siti Sholeha Berjuang Melawan Gagal Ginjal Demi Keluarga dan Harapan Ramadan 2026

Advertisement

Jakarta – Di tengah keterbatasan rumah petak di Duren Sawit, Jakarta Timur, Siti Sholeha, 47 tahun, memupuk asa untuk pulih dari gagal ginjal. Didampingi suaminya, Ibrahim, ia tak pernah absen menjalani kontrol dan terapi cuci darah di fasilitas BPJS Kesehatan.

Keinginan kuat untuk kembali berkontribusi bagi keluarga, merasakan kebahagiaan bersama, dan menyaksikan kedua anaknya menikah kelak menjadi motivasi utama Siti. Sebelum sakit, Siti dan Ibrahim berjuang keras menopang ekonomi keluarga dengan jasa cuci gosok pakaian dan berjualan gorengan, lontong, serta sambal kacang.

Kepada tim berbuatbaik.id, Siti mengungkapkan kerinduannya untuk kembali berjualan gorengan di Bulan Ramadan 2026. “Biasanya jual gorengan sama emak dan lainnya. Tapi sekarang sakit, paling ya bantu-bantu sebisanya aja,” ujarnya.

Siti sempat bergulat dengan kenyataan pahit ketika sakit menghancurkan sendi perekonomian keluarga, memaksa mereka bergantung pada bantuan kerabat. Suami Siti, yang berprofesi sebagai pengojek, kesulitan mendapat panggilan karena harus mendampingi Siti menjalani rawat jalan dan inap.

Selama lima bulan menjalani terapi cuci darah, Siti menyaksikan kondisi ekonomi keluarganya kian terpuruk. Ia bahkan harus bolak-balik ke Unit Perawatan Intensif (ICU) akibat sesak napas yang berulang.

Dengan tekad bulat, Siti berupaya mematuhi anjuran dokter agar terhindar dari sesak napas dan perawatan intensif. Ia juga bertekad memenuhi kebutuhan nutrisi dengan baik. “Sebetulnya ini udah enakan dan bisa makan. Dulu sama sekali nggak bisa makan, berat badan turun dari 50 kg jadi 40-41 kg. Sekarang nggak boleh turun lagi berat badannya, karena nggak boleh cuci darah kalau terlalu kurus,” jelas Siti.

Advertisement

Pemantauan kesehatan yang ketat diharapkan dapat membantu Siti perlahan kembali beraktivitas mandiri, mengurangi ketergantungan pada suami, dan membangun kembali kehidupannya. Ia juga berharap tidak lagi membebani putra-putranya.

Awal Mula Penyakit: Diabetes dan Hipertensi

Terapi cuci darah atau hemodialisa (HD) yang dijalani Siti berawal dari diabetes dan tekanan darah tinggi yang dideritanya sejak 2012. Kadar gula darahnya pernah melonjak hingga 600 mg/dL dengan tekanan darah sistolik 200 mmHg, kondisi yang membuatnya mengalami sesak napas hebat.

“Sesek banget, tapi sebetulnya sudah minum obat. Akhirnya sama dokter disuruh HD, padahal saya mintanya pakai obat dulu aja,” kenang Siti.

Meskipun cuci darah bukan pilihan awal, tindakan ini menjadi kunci bagi Siti untuk meraih kembali kesehatan dan kebahagiaan bersama keluarga. Semangat juang Siti untuk sembuh dan kepatuhannya pada aturan medis patut diapresiasi.

Sahabat Baik, mari dukung semangat Siti untuk sembuh. Bantuan Anda akan meringankan beban ekonomi keluarga prasejahtera ini, memungkinkan Siti menjalani terapi tanpa kekhawatiran akan kebutuhan hidup sehari-hari. Klik berbuatbaik.id untuk menyalurkan donasi 100% tanpa potongan.

Advertisement