Berita

InJourney Targetkan Pengurangan 4.000 Ton Emisi Karbon dalam Upaya Pariwisata Berkelanjutan

Advertisement

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang kini memasuki tahun keempat sebagai Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, terus menggenjot komitmennya dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Berbagai inisiatif strategis telah diimplementasikan lintas portofolio, mencakup transformasi bandara, peningkatan konektivitas udara, pengembangan destinasi budaya dan edukasi seperti Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah, pembangunan International Medical Tourism di KEK Sanur, hingga pengembangan destinasi unggulan The Mandalika dan The Golo Mori. Melalui Sarinah, InJourney juga konsisten membawa karya terbaik Indonesia ke kancah global.

Rangkaian inisiatif ini tidak hanya mendorong peningkatan kinerja korporasi, yang tercermin dari posisi InJourney sebagai perusahaan ke-43 terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjalankan peran ganda sebagai pencipta nilai dan agen pembangunan. Transformasi yang dilakukan diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Komitmen Keberlanjutan sebagai Arah Utama Transformasi

Memasuki tahun keempat perjalanannya, InJourney menegaskan keberlanjutan sebagai arah utama transformasinya. Selaras dengan tema ‘InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia’, keberlanjutan diposisikan sebagai kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang. Tujuannya adalah menjadikan pariwisata sebagai investasi lintas generasi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial.

Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menegaskan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis menjadi fondasi transformasi pariwisata nasional. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek manusia.

“Komitmen kami wujudkan melalui green initiative program di lingkungan InJourney Group, yang merupakan sebuah inisiatif untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Inisiatif ini kami rancang untuk menghasilkan dampak yang dapat diukur, konsisten, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang ramah lingkungan,” ujar Herdy dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Target Pengurangan Emisi dan Implementasi di The Nusa Dua

Dari sisi lingkungan sebagai bagian penerapan ESG, InJourney menargetkan penurunan emisi sebesar 4.000 ton CO₂e. Komitmen ini menjadi langkah awal menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus mendukung target Net Zero Emission Pemerintah Indonesia.

Advertisement

Implementasi keberlanjutan tersebut salah satunya diwujudkan di kawasan wisata The Nusa Dua, Bali, yang dikelola melalui anak usaha InJourney, Tourism Development Corporation (ITDC). Kawasan ini menerapkan ekosistem pariwisata berkelanjutan dengan prinsip tanggung jawab lingkungan sebagai fondasi operasional.

Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menjelaskan bahwa penerapan inisiatif hijau menjadi kunci menjadikan The Nusa Dua sebagai destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan. “Penerapan utilitas hijau seperti Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), waste management terintegrasi, dan reclaim water telah memastikan bahwa aktivitas pariwisata berjalan efisien, aman, dan tetap menjaga daya dukung lingkungan. Bagi ITDC, keberlanjutan bukan hanya agenda, tetapi fondasi operasional kawasan,” ujarnya.

SWRO: Inovasi Ketahanan Air dan Keberlanjutan Lingkungan

Fasilitas SWRO di The Nusa Dua telah beroperasi selama tiga bulan terakhir dan mampu menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih. Kapasitas produksi penuhnya mencapai 1.314.000 meter kubik per tahun. Teknologi ini memanfaatkan air laut sebagai sumber alternatif, secara signifikan mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan sumber air tawar.

Penerapan SWRO juga meningkatkan ketahanan air kawasan, menekan risiko kelangkaan akibat perubahan iklim, serta memastikan keberlanjutan operasional pariwisata. Melalui fasilitas ini, ITDC Nusantara Utilitas mencatatkan pencapaian sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi.

Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, Anak Agung Istri Ratna Dewi, menyatakan bahwa SWRO merupakan langkah konkret dalam memperkuat ketahanan air sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. “Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, kami memastikan pasokan air bersih yang stabil bagi seluruh tenant dan wisatawan tanpa mengorbankan lingkungan. Pengakuan dari KKP menjadi bukti bahwa inovasi hijau dapat berjalan sejalan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi,” tutupnya.

Advertisement