Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam keras aksi joget biduan di atas panggung yang digelar setelah peringatan Isra Mikraj di Banyuwangi, Jawa Timur. PBNU menilai hiburan tersebut tidak pantas dan merupakan bentuk kemaksiatan yang harus dicegah.
Kritik PBNU Terhadap Hiburan Pasca-Acara Keagamaan
Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Ahmad Fahrur Rozi, menyatakan bahwa meskipun acara inti Isra Mikraj telah selesai, hiburan dengan gaya joget seperti itu tetap tidak sopan dan dikategorikan sebagai maksiat. “Meskipun sudah selesai acara, tapi hiburan dengan joget begitu tidak pantas dan tetap merupakan maksiat yang harus dicegah,” ujar Fahrur kepada wartawan pada Senin (19/1/2026).
Fahrur mengimbau seluruh masyarakat Muslim untuk senantiasa menempatkan pentas hiburan dalam koridor ajaran agama Islam. Ia menekankan bahwa hiburan seharusnya bersifat sopan dan tidak mengekspos aurat.
“Apalagi dalam acara keagamaan, jogetan begini adalah salah satu bentuk kemungkaran yang pernah dikecam keras oleh KH Hasyim Asy’ari pendiri NU,” tegasnya, merujuk pada pendiri organisasi Nahdlatul Ulama.
Klarifikasi Panitia Acara
Menanggapi polemik yang timbul, Ketua panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, mengakui adanya hiburan tersebut. Ia menjelaskan bahwa aksi biduan itu digelar setelah acara inti selesai dan para undangan serta tokoh agama sudah meninggalkan lokasi.
“Hiburan yang menghadirkan biduan pada acara Isra Mikraj tersebut memang benar adanya. Akan tetapi, hiburan tersebut digelar setelah acara usai dan seluruh undangan serta kiai sudah tidak ada di tempat,” ujar Hadiyanto, seperti dilansir detikJatim pada Sabtu (17/1/2026).
Hadiyanto menambahkan bahwa hiburan tersebut merupakan inisiatif spontan yang diadakan untuk kalangan internal panitia. Pihak panitia telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi melalui video klarifikasi yang dibuat di Polsek Songgon pada Jumat (16/1) malam, menyusul kegaduhan yang terjadi di masyarakat.






