Samsung Galaxy S26 Ultra, yang baru saja diluncurkan, telah memicu perdebatan di kalangan penggemar teknologi. Meskipun antusiasme awal menyelimuti perilisannya, peninjauan mendalam terhadap spesifikasi dan fitur mengungkap beberapa penurunan kualitas yang cukup mengejutkan, bahkan membuat beberapa calon pembeli mempertimbangkan ulang keputusan mereka untuk melakukan upgrade.
Salah satu sorotan utama adalah performa layar. Fitur Privacy Display yang menjadi andalan Galaxy S26 Ultra, dirancang untuk membatasi sudut pandang orang lain saat melihat layar di tempat umum. Namun, fitur inovatif ini datang dengan konsekuensi yang tidak diinginkan: tingkat kecerahan layar secara keseluruhan mengalami penurunan dibandingkan pendahulunya, Galaxy S25 Ultra. Samsung mengklaim layar mampu mencapai 2.600 nits, namun pengujian laboratorium menunjukkan angka puncak hanya 1.806 nits, sedikit di bawah 1.860 nits pada Galaxy S25 Ultra. Perbedaan yang tampak kecil di atas kertas ini, menurut pengamatan, cukup kentara dalam penggunaan sehari-hari. Pengguna bahkan melaporkan mata terasa lelah dan tidak nyaman setelah penggunaan yang cukup lama, serta teks yang tampak sedikit buram dibandingkan model sebelumnya.
Penurunan Kualitas Layar dan Kekecewaan pada Kedalaman Warna
Lebih lanjut, Samsung dikabarkan telah menarik kembali janji mengenai kedalaman warna 10-bit pada layarnya. Awalnya, dalam konferensi pers Galaxy S26, Samsung menginformasikan bahwa perangkat ini akan memiliki layar dengan kedalaman warna 10-bit. Namun, spesifikasi produk yang dirilis kemudian hanya mencantumkan 16,7 juta warna, yang identik dengan spesifikasi 8-bit. Setelah kontroversi ini mencuat, juru bicara Samsung mengonfirmasi bahwa layar Galaxy S26 Ultra sebenarnya adalah layar 8-bit yang mensimulasikan kedalaman warna 10-bit. Perbedaan ini tidak hanya bersifat teoritis. Pengujian langsung menunjukkan adanya kesenjangan yang terlihat pada konten HDR, di mana gradasi warna langit tidak sehalus dan transisi gelap terasa lebih kasar dibandingkan perangkat dengan panel 10-bit asli.

Ketidaksesuaian antara janji awal dan produk yang diterima konsumen menjadi poin kekecewaan tersendiri bagi banyak pihak. Penggunaan teknologi simulasi untuk “meniru” kedalaman warna 10-bit ini dianggap sebagai langkah mundur, terutama mengingat persaingan di pasar smartphone premium yang semakin ketat.
Kamera Telefoto 3x Mengalami Kemunduran
Di sektor fotografi, kamera telefoto 3x pada Galaxy S26 Ultra juga dilaporkan mengalami penurunan performa. Meskipun kedua telephoto kamera memiliki sensor 10MP dengan aperture f/2.4, focal length 67mm, PDAF, OIS, dan zoom optik 3x, perbedaan krusial terletak pada ukuran sensor dan piksel. Galaxy S25 Ultra menggunakan sensor yang lebih besar (1/3.52 inci dengan piksel 1.12µm), sementara Galaxy S26 Ultra menggunakan sensor yang lebih kecil (1/3.94 inci dengan piksel 1.0µm). Dalam kondisi cahaya terang, perbedaannya mungkin tidak terlalu kentara. Namun, saat digunakan dalam kondisi minim cahaya, seperti di restoran yang remang-remang atau saat pemotretan malam hari, sensor yang lebih kecil pada S26 Ultra menangkap lebih sedikit cahaya. Hal ini berpotensi menghasilkan lebih banyak noise dan detail yang berkurang.
Desain dan Perubahan Material yang Dipertanyakan
Secara desain, Galaxy S26 Ultra juga menghadirkan perubahan yang menimbulkan pertanyaan. Modul kamera baru dilaporkan tidak semenarik desain pada Galaxy S25 Ultra. Selain itu, keputusan Samsung untuk kembali menggunakan material aluminium dari titanium terasa seperti mengikuti tren iPhone tanpa pertimbangan matang. Meskipun perangkat menjadi lebih ramping, ukurannya secara keseluruhan justru lebih panjang dan lebar, serta menawarkan rasio layar-ke-tubuh yang lebih buruk. Desain yang lebih membulat memang diklaim lebih nyaman digenggam, namun kombinasi perubahan ini bagi sebagian pengamat terasa seperti sebuah downgrade.
Bagi pengguna yang ingin melakukan upgrade dari Galaxy S23 Ultra atau model yang lebih lama, Galaxy S26 Ultra mungkin masih layak dipertimbangkan. Namun, bagi pemilik Galaxy S25 Ultra, fakta bahwa tidak ada cukup pembaruan signifikan yang ditawarkan untuk membenarkan perpindahan ke model baru ini menjadi pertimbangan serius.






