Artificial Intelligence (AI)

Ribuan Pengguna Ramai-Ramai Boikot ChatGPT Akibat Gerakan ‘QuitGPT’, Ini Alasannya

Advertisement

Sebuah gerakan akar rumput yang dikenal sebagai “QuitGPT” mulai mendapatkan momentum signifikan pada awal Februari 2026, mendorong ribuan pengguna untuk memboikot dan membatalkan langganan ChatGPT. Boikot ini bukan disebabkan oleh masalah teknis seperti pemadaman layanan atau penurunan performa model, melainkan sebagai bentuk protes politik dan etis terhadap OpenAI, perusahaan induk ChatGPT.

Gerakan yang tersebar melalui platform seperti Reddit, Instagram, dan situs web khusus ini, mengimbau pengguna untuk menghentikan langganan ChatGPT Plus dan tingkatan berbayar lainnya. Para penyelenggara dan partisipan QuitGPT menyuarakan beberapa keluhan utama yang mendasari aksi protes ini, yang menimbulkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana kecerdasan buatan (AI) berinteraksi dengan ranah politik, perilaku korporat, dan nilai-nilai konsumen.

Donasi Politik Pimpinan OpenAI

Salah satu klaim yang paling banyak dibagikan dalam kampanye QuitGPT adalah tuduhan bahwa presiden OpenAI melakukan donasi politik besar kepada sebuah super PAC pro-Trump. Langkah ini dikritik oleh banyak pengguna di Silicon Valley yang memiliki nilai-nilai aktivis, karena dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip yang mereka anut. Laporan menunjukkan bahwa donasi sebesar $25 juta dari Presiden OpenAI Greg Brockman dan istrinya kepada komite aksi politik MAGA Inc. untuk kampanye Donald Trump pada September 2025 menjadi pemicu utama. Brockman sendiri sempat menyatakan apresiasinya terhadap “kemajuan teknologi” kampanye Trump, dengan menyatakan bahwa kepemimpinan dalam teknologi, khususnya AI, adalah kunci bagi Amerika untuk memimpin dunia dan melindungi nilai-nilai demokrasi.

Penggunaan AI dalam Penegakan Hukum

Pendukung QuitGPT juga menyoroti penggunaan alat yang didukung oleh model bergaya ChatGPT dalam proses perekrutan atau penyaringan oleh lembaga pemerintah seperti U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE). Laporan mengonfirmasi bahwa ICE menggunakan alat AI yang didasarkan pada model GPT-4 untuk meninjau resume dalam proses rekrutmen. Selain itu, ICE juga menggunakan produk AI dari Palantir, termasuk “AI-Enhanced ICE Report Processor” yang memanfaatkan large language models (LLM) untuk merangkum laporan sipil, serta alat “Enhanced Lead Identification and Enforcement Target Selection” (ELITE) yang menggunakan AI untuk mengidentifikasi target penegakan hukum, termasuk mereka yang akan dideportasi. Penggunaan AI oleh lembaga-lembaga ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang bagaimana AI diterapkan dalam sistem-sistem yang kontroversial di dunia nyata.

Ketidaknyamanan Etis dan Akuntabilitas Korporat

Selain insiden spesifik tersebut, gerakan QuitGPT mencerminkan kegelisahan yang lebih luas tentang siapa yang mengendalikan teknologi yang digunakan banyak orang setiap hari, dan apa yang diwakili oleh nilai-nilai para pemimpin perusahaan tersebut terhadap alat-alat yang mereka hasilkan. Penyelenggara QuitGPT mengklaim bahwa puluhan ribu orang telah mendaftar untuk membatalkan langganan mereka, menandakan bahwa protes ini telah bergerak dari diskusi anonim menjadi aktivisme yang terorganisir. Situs QuitGPT mengklaim bahwa 700.000 pengguna telah berkomitmen untuk melakukan boikot.

Advertisement

Dukungan Selebriti dan Alternatif AI

Salah satu faktor yang mendorong QuitGPT menjadi sorotan adalah dukungan dari aktor Mark Ruffalo. Melalui unggahan di media sosialnya, Ruffalo mendorong para pengikutnya untuk mempertimbangkan implikasi etis dari terus menggunakan dan membayar ChatGPT. Ruffalo membingkai boikot ini sebagai pilihan moral dan menyarankan eksplorasi layanan AI alternatif yang lebih selaras dengan nilai-nilai pengguna. Unggahan Ruffalo di Instagram, yang mendapatkan jutaan suka dan keterlibatan luas, telah memicu kesadaran yang lebih luas dan membawa QuitGPT ke dalam diskusi arus utama di luar forum teknologi dan lingkaran aktivis.

Mark Rufallo dengan Pernyataannya Mengenai Gerakan QuitGPT. Foto: Instagram/@quitgpt
Mark Rufallo dengan Pernyataannya Mengenai Gerakan QuitGPT. Foto: Instagram/@quitgpt

Penting untuk dicatat bahwa QuitGPT bukan gerakan anti-AI. Sebaliknya, para penyelenggara secara aktif mengarahkan pengguna ke pesaing seperti Google Gemini, Anthropic Claude, dan pilihan sumber terbuka (open-source). Hal ini menunjukkan bahwa fokus gerakan ini adalah pada ketersediaan pilihan dalam ekosistem AI yang berkembang pesat, bukan pada penolakan terhadap teknologi itu sendiri.

Dampak dan Prospek Gerakan

Meskipun QuitGPT telah mendapatkan perhatian yang signifikan, dampaknya terhadap basis pengguna ChatGPT yang sangat besar masih perlu dilihat. ChatGPT telah tertanam dalam alur kerja jutaan profesional, pelajar, dan pengguna sehari-hari, yang membuat utilitasnya sulit dihilangkan dalam semalam. Namun, gerakan ini menyoroti pergeseran penting dalam kesadaran konsumen, di mana pengguna semakin melihat platform teknologi bukan hanya sebagai alat netral, tetapi sebagai entitas yang nilainya secara implisit mereka dukung. Ke depan, perusahaan teknologi mungkin perlu lebih transparan mengenai nilai-nilai mereka seiring dengan peluncuran fitur-fitur baru, terutama di era di mana kenyamanan dan hati nurani tidak selalu selaras. Gerakan QuitGPT menandakan bahwa era konsumsi teknologi yang apolitis telah berakhir.

Advertisement