Gadget Smartphone

Apple dan Samsung Masih Terlaris, Disusul Merek HP Mengagetkan Ini di 2025

Advertisement

Merek ponsel asal China, Honor, secara mengejutkan mencatat pertumbuhan pengapalan tertinggi di pasar global sepanjang tahun 2025. Dengan pertumbuhan mencapai 11% secara tahunan (YoY), Honor berhasil melampaui para pesaingnya dari China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo, serta bahkan melampaui raksasa teknologi global Apple dan Samsung dalam hal laju pertumbuhan.

Meskipun pangsa pasar Honor masih berada di angka 6%, peningkatan yang signifikan ini menempatkannya sebagai merek dengan pertumbuhan paling pesat di antara sepuluh besar produsen ponsel dunia. Data ini dirilis oleh firma riset pasar Omdia, yang menyoroti pergeseran lanskap persaingan di industri smartphone global.

Apple dan Samsung Masih Memimpin Pangsa Pasar

Di tengah lonjakan pertumbuhan Honor, Apple dan Samsung masih mempertahankan posisi teratas dalam hal pangsa pasar global. Menurut data Omdia, kedua perusahaan teknologi raksasa ini masing-masing menguasai 19% dari total pengapalan smartphone global pada tahun 2025. Keduanya juga mencatat pertumbuhan yang solid, yaitu sebesar 7% YoY.

Iphone 17 Pro. Foto: Apple
iPhone 17 Pro. Foto: Apple

Angka ini sedikit berbeda dengan data dari firma riset Counterpoint Research, yang menempatkan Apple sebagai pemimpin pasar dengan pangsa 20% dan pertumbuhan 10% YoY, didorong oleh penjualan seri iPhone 17. Sementara itu, Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 19% dan pertumbuhan 5% YoY.

Terlepas dari perbedaan minor antar firma riset, konsensus menunjukkan bahwa Apple dan Samsung tetap menjadi pemain dominan di pasar smartphone global.

Performa Merek China Lain Tertinggal

Berbeda dengan Honor, beberapa merek ponsel China yang lebih dulu dikenal justru mengalami perlambatan atau penurunan. Xiaomi, yang berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 13%, membukukan pertumbuhan negatif sebesar 2% YoY. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan bagi Xiaomi untuk mempertahankan momentumnya di tengah persaingan yang semakin ketat.

Xiaomi Redmi Note 15 Pro. Foto: Xiaomi
Xiaomi Redmi Note 15 Pro. Foto: Xiaomi

Vivo, Transsion (yang menaungi merek Infinix, Itel, dan Tecno), serta Oppo, masing-masing menguasai 8% pangsa pasar. Namun, hanya Vivo yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 4% YoY. Oppo mengalami penurunan 3% YoY, sementara Transsion menghadapi penurunan paling signifikan, yaitu 8% YoY. Hal ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi dan inovasi merek-merek tersebut belum sepenuhnya efektif dalam menghadapi dinamika pasar.

Advertisement

Honor Ungguli Huawei dan Merek Lain

Bahkan merek yang sebelumnya sempat mendominasi pasar seperti Huawei, kini tertinggal dari Honor. Huawei hanya mampu meraup pangsa pasar 4% dengan pertumbuhan positif 2% YoY. Merek lain seperti Lenovo mencatat pertumbuhan 6% dengan pangsa pasar 5%, sementara Realme mengalami penurunan drastis sebesar 13% dengan pangsa pasar hanya 3%.

Pencapaian Honor ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk investasi dalam inovasi teknologi di area seperti pencitraan, kecerdasan buatan, dan teknologi baterai. Selain itu, ekspansi geografis yang agresif dan portofolio produk yang terdiversifikasi juga turut berkontribusi pada pertumbuhan pesat ini.

Tantangan Pasar Smartphone di 2026

Para analis memprediksi bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun yang menantang bagi industri smartphone global. Tekanan utama diperkirakan datang dari krisis rantai pasok komponen, terutama untuk memori DRAM, NAND, dan semikonduktor lainnya. Kelangkaan yang sudah terasa sejak akhir 2025 diprediksi akan berlanjut dan mendorong kenaikan harga jual perangkat elektronik.

Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst Devices Research IDC Indonesia, menyatakan bahwa kenaikan harga produk elektronik sudah mulai terlihat sejak awal tahun 2026. Segmen smartphone dengan harga terjangkau diprediksi akan paling terdampak karena margin vendor yang tipis. Kenaikan harga jual akan lebih terlihat pada segmen ini, sementara segmen menengah dan atas mungkin dapat melakukan penyesuaian spesifikasi untuk menjaga harga tetap terkendali.

Konsumen pun diperkirakan perlu menyiapkan anggaran lebih untuk mendapatkan perangkat yang diinginkan. Kondisi ini diprediksi baru akan mereda pada semester II 2026, namun harga diperkirakan tetap tinggi hingga awal 2027. Beberapa vendor, seperti vivo dan Asus, telah mengonfirmasi adanya penyesuaian harga produk mereka di Indonesia akibat dinamika rantai pasok global.

Advertisement