Nvidia dilaporkan menunda peluncuran kartu grafis (GPU) gaming terbarunya, termasuk seri RTX 50 Super yang telah dirancang, serta berpotensi menunda peluncuran seri RTX 60 generasi berikutnya. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kelangkaan chip memori global yang semakin parah, yang memaksa perusahaan untuk memprioritaskan produksi chip kecerdasan buatan (AI) yang lebih menguntungkan. Penundaan ini menandai pertama kalinya dalam hampir tiga dekade Nvidia tidak merilis unit pemrosesan grafis (GPU) baru untuk pasar gaming dalam satu tahun kalender.
Menurut laporan dari The Information, para manajer Nvidia memutuskan pada bulan Desember lalu untuk tidak merilis kartu grafis gaming baru sesuai jadwal. Keputusan ini didorong oleh menipisnya pasokan chip memori, terutama memori berkapasitas tinggi seperti GDDR7, yang sangat krusial baik untuk GPU gaming maupun akselerator AI. Keterbatasan pasokan ini telah mendorong kenaikan harga memori secara signifikan, yang semakin memperparah situasi.
Pergeseran Prioritas ke Bisnis AI
Krisis chip memori global telah mencapai titik kritis pada tahun 2026, didorong oleh permintaan luar biasa dari sektor AI. Pertumbuhan pesat dalam model bahasa besar, platform AI generatif, dan sistem pembelajaran mesin telah meningkatkan permintaan memori secara eksponensial. Server AI membutuhkan jumlah memori yang jauh lebih besar per unit dibandingkan server tradisional, mendorong lonjakan permintaan chip memori bandwidth tinggi (HBM) untuk akselerator AI berbasis GPU.

Nvidia, yang pendapatannya sangat bergantung pada chip AI yang memberikan margin keuntungan lebih tinggi, memilih untuk mengalokasikan pasokan memori yang terbatas ke bisnis chip AI dan pusat data yang lebih menguntungkan. Pendapatan dari segmen pusat data Nvidia mencapai 51,2 miliar dolar AS dari total 57 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun fiskal 2026, menunjukkan dominasi bisnis AI. Sebaliknya, pendapatan dari segmen gaming, meskipun tumbuh 30 persen, hanya menyumbang sebagian kecil dari pendapatan keseluruhan.
Dampak pada Gamer dan Roadmap Produk
Penundaan ini berdampak langsung pada para gamer yang menantikan pembaruan perangkat keras. Seri RTX 50 Super, yang dirumorkan akan membawa peningkatan signifikan dalam kapasitas memori GDDR7 dan batas daya yang lebih tinggi, kini tidak memiliki jadwal rilis yang pasti. Lebih lanjut, seri RTX 60, yang awalnya dijadwalkan untuk memulai produksi massal pada akhir tahun 2027, berpotensi tertunda hingga tahun 2028 atau bahkan lebih lambat.
Selain menunda peluncuran produk baru, Nvidia juga dilaporkan mengurangi produksi lini GPU gaming RTX 50 yang saat ini ada, meskipun permintaan tinggi dan stok seringkali habis di pasaran. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan ketersediaan memori bagi produk AI.
Seorang juru bicara Nvidia menyatakan, “Permintaan untuk GPU GeForce RTX kuat, dan pasokan memori terbatas. Kami terus mengirimkan semua SKU GeForce dan bekerja sama erat dengan pemasok kami untuk memaksimalkan ketersediaan memori.” Pernyataan ini tidak secara langsung mengonfirmasi penundaan, tetapi mengakui adanya kendala pasokan memori.
Situasi ini menunjukkan pergeseran strategis Nvidia dari perusahaan yang berakar pada grafis gaming menjadi pemimpin dominan dalam komputasi AI. Meskipun chip AI menawarkan margin keuntungan yang jauh lebih tinggi (sekitar 65% untuk segmen komputasi dan jaringan, dibandingkan 40% untuk bisnis grafis), keputusan ini berpotensi mengecewakan basis penggemar gaming yang setia.






