Berita

Mendagri Tito Karnavian: Gelondongan Kayu di Aceh Timur-Utara Siap Dimanfaatkan

Advertisement

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa temuan gelondongan kayu pascabencana paling banyak terkonsentrasi di perbatasan Aceh Timur dan Aceh Utara. Ia menyebutkan adanya satu hamparan luas yang menjadi fokus perhatian.

Fokus Penanganan di Perbatasan Aceh Timur dan Aceh Utara

“Kalau kita mau melihat yang paling banyak hamparan gelondongan kayu itu sebetulnya ada di satu hamparan saja, yaitu perbatasan Aceh Timur dengan Aceh Utara. Di Aceh Timur nama daerahnya Pantai Bideri dan di seberangnya itu Langkahan Aceh Utara. Itulah persoalannya,” ujar Tito dalam rapat koordinasi satgas di kantor Kemendagri, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).

Mendagri menekankan pentingnya mencari solusi agar gelondongan kayu tersebut tidak hanya mengendap di kawasan itu dan dapat dimanfaatkan. Selain itu, penanganan ini juga bertujuan untuk membersihkan sungai yang terhalang oleh tumpukan kayu.

Arahan Presiden untuk Pemanfaatan Kayu Pascabencana

Tito menjelaskan bahwa Presiden telah memberikan arahan terkait pemanfaatan kayu yang ditemukan pascabencana. “Memang kebijakan Bapak Presiden waktu rapat yang lalu termasuk di Hambalang, arahan kepada kami silakan dimanfaatkan masyarakat ataupun pemerintah untuk bencana,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian kayu telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan pembangunan rumah dan jembatan. Namun, masih banyak gelondongan kayu berukuran kecil yang belum dapat diolah.

“Nah, banyak yang sudah melakukan dengan cara dipotong kemudian dijadikan papan untuk bangun rumah, jembatan, lain-lain. Tapi banyak sekali gelondongan-gelondongan kecil yang nggak memiliki, nggak bisa, nggak bisa dibuat papan,” sambung dia.

Saran Pemanfaatan Melalui BUMD dan Industri Lokal

Mendagri memaparkan sejumlah saran yang diterima dari kepala daerah setempat mengenai pemanfaatan kayu tersebut. Salah satu usulan adalah agar Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mengambil alih dan menjual kayu tersebut kepada pihak ketiga.

Advertisement

“Ada saran dari beberapa kepala daerah, ‘Pak, bagaimana kalau seandainya itu diambil saja untuk dikerjakan oleh BUMD dijualkan kepada pihak ketiga misalnya PLTU’. Di Sumatera Utara ada PLTU, mereka memerlukan kayu juga. Ada juga industri lokal seperti batu bata, pembuatan batu bata, mereka nanya-nanya terus boleh nggak ngambil kayu itu karena selama ini susah nyari kayu,” ungkapnya.

Tito menilai hamparan kayu gelondongan tersebut memiliki nilai ekonomis yang signifikan.

Solusi Pemanfaatan Kayu di Tapanuli Tengah sebagai Tanggul

Lebih lanjut, Mendagri menyoroti solusi pemanfaatan kayu di Tapanuli Tengah yang dijadikan sebagai tanggul. Ia melihat inisiatif tersebut berhasil mengalirkan air yang sebelumnya terhambat.

“Ini dibuat dikerok seperti ini dan kemudian dibuatkan tanggul kanan kirinya sehingga airnya cepat tadinya nggak mengalir sekarang mengalir, kemudian dibuat tanggul sehingga airnya tanggulnya bisa digunakan kalau terjadi apa-apa juga bisa menjadi penahan,” katanya.

“Nah, ini saya baru melihat di Tapanuli Tengah yang sudah jalan, sementara di tempat lain belum belum ada yang signifikan untuk masalah sungai,” sambungnya, mengindikasikan perlunya replikasi solusi serupa di daerah lain yang terdampak bencana.

Advertisement