Moltbot, yang sebelumnya dikenal sebagai Clawdbot, telah menjelma menjadi fenomena di dunia teknologi sebagai agen kecerdasan buatan (AI) yang viral. Kemampuannya untuk bertindak secara otonom dalam berbagai alur kerja pribadi menjadikannya sorotan utama di kalangan pengembang dan antusias teknologi. Evolusi dari Clawdbot menjadi Moltbot tidak hanya menandai perubahan nama, tetapi juga mencerminkan perjalanan proyek yang penuh dengan inovasi, tantangan merek dagang, dan isu keamanan yang perlu diwaspadai.
Awalnya diluncurkan sebagai Clawdbot pada September 2025 oleh pengembang Alex Chen dan Maria Kowalski, proyek ini dirancang sebagai asisten AI sumber terbuka (open-source) yang berjalan secara mandiri di perangkat keras pengguna. Pendekatan “messaging-first” memungkinkan interaksi melalui aplikasi chat populer seperti WhatsApp, Telegram, dan Slack, menjadikannya berbeda dari chatbot berbasis browser konvensional. Konsep ini menawarkan privasi yang lebih tinggi karena data tidak disimpan di server cloud, melainkan tetap berada di perangkat pengguna. Keunikan inilah yang membuat Clawdbot dengan cepat mendapatkan popularitas, bahkan disebut sebagai “24/7 Jarvis”.
Rebranding Menjadi Moltbot dan Tantangan Merek Dagang
Perjalanan Clawdbot mengalami titik balik penting pada Januari 2026 ketika tim pengembang terpaksa melakukan rebranding menjadi Moltbot. Perubahan nama ini dipicu oleh surat keberatan merek dagang dari Anthropic, perusahaan di balik model AI Claude, yang menganggap nama “Clawdbot” terlalu mirip. Nama “Moltbot” dipilih untuk melambangkan pertumbuhan dan evolusi, seperti proses “molting” atau berganti kulit pada lobster, yang merupakan maskot proyek ini.
Namun, proses rebranding ini tidak sepenuhnya mulus. Selama masa transisi, akun media sosial dan repositori GitHub asli Clawdbot dilaporkan sempat dibajak oleh penipu yang mempromosikan token kripto palsu. Pencipta Moltbot, Peter Steinberger, secara tegas membantah keterlibatan apa pun dengan aset kripto dan mengimbau pengguna untuk berhati-hati terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan proyeknya. Insiden ini menyoroti risiko yang muncul ketika proyek AI yang populer bersinggungan dengan budaya spekulasi aset kripto.
Kemampuan Otonom dan Potensi Moltbot
Moltbot beroperasi sebagai sistem “agentic AI,” yang berarti ia mampu mengamati, memutuskan, dan bertindak secara otonom dalam alur kerja pengguna. Berbeda dari chatbot biasa yang hanya merespons perintah, Moltbot dapat proaktif mengirimkan ringkasan harian, pengingat tenggat waktu, atau mengelola email tanpa intervensi pengguna secara terus-menerus. Kemampuannya meliputi pengelolaan kalender, pengiriman pesan melalui berbagai platform, eksekusi perintah terminal, hingga bahkan membantu proses check-in penerbangan.
Fleksibilitas Moltbot juga ditingkatkan melalui sistem “kemahiran” (skills) yang memungkinkan pengguna memasang atau membuat skrip kustom untuk memperluas fungsionalitasnya. Hal ini menjadikan Moltbot sebagai alat yang sangat bisa disesuaikan untuk berbagai kebutuhan otomatisasi pribadi dan profesional.
Tantangan Keamanan dan Risiko Penggunaan
Meskipun menawarkan kemampuan yang mengesankan, Moltbot juga membawa risiko keamanan yang signifikan. Sifatnya yang otonom dan kemampuannya mengakses berbagai sistem, termasuk email, kalender, dan perintah sistem, memerlukan kehati-hatian ekstra. Para ahli keamanan memperingatkan bahwa salah konfigurasi atau kompromi pada Moltbot dapat menyebabkan konsekuensi serius.
Rachel Tobac, CEO SocialProof Security, menyoroti kerentanan terhadap serangan injeksi cepat (prompt injection attacks), di mana penyerang dapat memanipulasi AI dengan instruksi berbahaya melalui pesan atau file yang diproses oleh Moltbot. Jika agen AI ini memperoleh hak akses administratif pada komputer, penyerang berpotensi mengambil kendali sistem hanya melalui satu pesan. Oleh karena itu, para profesional keamanan menyarankan pengguna untuk bereksperimen dengan Moltbot di lingkungan yang terisolasi, seperti mesin virtual atau server khusus, daripada di perangkat utama yang berisi data sensitif. Pengguna juga diingatkan untuk tidak secara membabi buta menerima setiap saran AI tanpa penilaian kritis, karena Moltbot tetaplah alat yang membutuhkan pengawasan.
Moltbot, yang sebelumnya Clawdbot, mewakili evolusi menarik dalam agen AI otonom. Dengan kemampuan yang kuat dan pendekatan yang berpusat pada pengguna, ia menawarkan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas. Namun, kesuksesan viralnya juga menyoroti pentingnya kesadaran keamanan dan pengelolaan risiko yang cermat dalam mengadopsi teknologi AI yang semakin canggih ini.






